HALLO.STRANGER
cerita ini diambil dari Antologi Karena Kita Tidak Kenal oleh Farida Susanty,
dengan beberapa perubahan.
Suatu hari, di sebuah tempat,
ya, tempat merupakan keterangan penting disini.
Pada suatu hari di sebuah
jalan, seorang lelaki, orang asing #1 mengemudikan mobilnya, menuju, entahlah.
Dia hanya berkendara tanpa tujuan. Kepalanya penat, butuh kesegaran.
Seolah-olah lebah mengerubuni kepalanya.
Hari itu sabtu sore, dan kota
diguyur hujan cukup lebat. Kaca depan mobil lelaki itu tampak buram, berembun.
Bahkan dalam keadaan
penglihatan seperti itu, entah bagaimana matanya menangkap sebuah sosok. Ia
tidak yakin dengan penglihatanya, apakah hanya imajinasi, atau memang nyata.
Yang jelas, Ia melihat seorang gadis, orang asing #2, sedang duduk di trotoar
jalan di tengah hujan lebat. Gadis berambut sebahu, dengan kaus merah, dan
celana jeans berwarna indigo, duduk dengan dengan mata menatap lurus keedepan,
dan tenang.
Laki-laki itu menyipitkan
matanya. Itu pemandangan paling ganjil yang pernah aku lihat. Seorang gadis,
duduk di tepi trotoar, di tengah hujan, tanpa berusaha mencari tempat berteduh.
Apa yang gadis itu lakukan?
Ia, laki-laki itu bukan orang
yang spontan. Tapi, entah kenapa, rasanya ia tertarik untuk berhenti dan
menemui si gadis itu. Dan, akhirnya, ia mengikuti insting dan menepikan
mobilnya.
Begitulah mereka, kedua orang
asing itu, bertemu.
Laki-laki itu membuka kaca
mobilnya, dan memanggil gadis itu.
“Hey, kamu,” katanya. “Masuk
sini.”
Gadis itu diam. Memandang
bingung. Mencoba menganalisis laki-laki dalam mobil yang berhenti di depannya
itu. Berambut lurus, agak gondrong. Wajah bersih, mata tenang. Seperti orang
terpelajar, tetapi eksentrik. Terlihat dari sedan tahun 80’annya. Ya, di kota
sebesar ini, sudah jarang orang, apalagi seumuran lelaki itu yang masih mau
mengendarai mobil dibawah keluaran tahun 2000’an. “Mau apa kamu?” Tanya gadis
itu serak. Tampaknya dia sudah terlalu lama diguyur hujan, dan mulai pilek.
“Aku anterin kamu ke tempat
tujuan kamu. Yang penting masuk aja dulu, jangan ujan-ujannan gitu.” Kata
laki-laki itu lagi. Dia menunjuk ke belakang, “Jok belakang aku rusak, dan
banyak barang. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu. Aku gak punya catatan kriminal,
atau rumah sakit jiwa. Terus, kalau kamu duduk terus di situ, bakal lebih
banyak mobil yang berhenti, nawarin kamu masuk. Ada kemungkinan nih, dari
banyak mobil itu beberapa ada yang penjahat kelamin, pemerkosa, atau penjual
ginjal.” Ia mencoba beralasan.
Gadis itu tertawa. Laki-laki
itu menarik juga, walaupun sebenarnya ia cukup takut.
Gadis itu, juga bukan orang
yang spontan terhadap sesuatu. Tapi entah kenapa dia tertarik untuk bangkit
dari trotoar. Setelah sedikit banyak mempertimbangkan ini itu, ia akhirnya
mengikuti instingnya dan masuk ke dalam mobil.
“Take
me out tonight…Where there’s music and there’s people, and they’re young and
alive…”
~The
Smiths- There Is a Light That Will Never Goes Out
Dengan baju yang berkecipak,
ia mendudukan dirinya ke dalam mobil itu. Segera aroma pewangi mobil beraroma
bugenville menyerbu hidungnya. Musik menggema di dalam mobil itu cukup kencang.
Ia menatap laki-laki itu tersenyum dan menyipitkan matanya. Laki-laki itu
menutup kembali kaca jendelanya dan menatap si gadis.
“Kenapa?” Ia mempertanyakan
tatapan si gadis.
Gadi itu menggeleng sambil
tertawa. “Tidak.” Hanya saja, bugenville? The Smiths?” Gadis itu tertawa lagi
sambil menunjuk pewangi mobil dan tape
yang menggaungkan lagu There Is a Light
That Will Never Gous Out.
Laki-laki itu juga tertawa.
“Aneh ya?”
Gadis itu hanya menggeleng
dan dan duduk menyender.
“Kedinginan?” Tanya laki-laki
itu. Tanpa menunggu jawaban si gadis, laki-laki itu membawa sweater hitam dari jok belakangnya.
“Pake aja”
Gadis itu mengangguk dan
memakainya.
Laki-laki itu menginjak
kopling dan gas mobilnya. Mobil mulai maju lagi. Ia berdehem. “Jadi, ngapain
kamu diem di situ?” Tanya si laki-laki.
Gadis itu tertawa. Serak. “Gak
tahu.”
“Nunggu orang ya? Pacar kamu?
Tega banget.”
Tawa gadis itu makin keras. “Bukan.”
“Pelanggan? Orang asing? Lagi
mangkal?” Tanya laki-laki itu tidak percaya. “Eh, seriusan? Buat apa?”
“Hmm…Nggak tahu.” Gadis itu
melebarkan matanya yang, ketika laki-laki itu perhatikan cukup menarik. Mata
yang cuek, atraktif, dan playful.
“Dan, kamu mau ke…?”
Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya.
“Nggak tahu,” jawab gadis itu
cepat.
Kini laki-laki itu tidak bisa
tidak serius. “Yang bener dong.”
“Hmm…Entahlah. Just take me out tonight…Where there’s music
and there’s people, and they’re young and alive…” Gadis itu bernyanyi
mengikuti musik yang menggema. Laki-laki itu tertawa. “Bawa aku ke tempat yang
seru aja. Kamu sendiri mau kemana?” Tanya gadis itu. “Ah, malam minggu gini,
mau nyamperin cewek kamu ya?” Gadis itu terkekeh.
Laki-laki itu berpaling
sebentar dari jalan, dan mereka saling menatap.
“Haha. Nggak, aku..uh, gak
punya pacar. Dan aku mau…” Dia sendiri kan sebenarnya tidak tahu mau kemana.
Tapi akhirnya ia mengarang. “Aku mau ke bisokop,” katanya.
“Nah, kalau gitu, aku ikut
aja ke bioskop,” Gadis itu memalingkan wajahnya keluar jendela, tanda dia
membubuhkan tanda titik di kalimatnya dan tidak mau mebicarakan itu. Karena
sikapnya itu, si laki-laki terkekeh lagi. Keberadaan gadis aneh ini mulai
menghiburnya.
“Hey, nyantai amat
ngomongnya. Emang aku iyain kamu boleh ikut?” kata si laki-laki terggelak.
Gadis itu membalik dan memutar mata. “tapi, yah…tapi karena kamu juga inisiatif
mau pergi bareng aku, dan membuka kesempatan selebar-lebarnya buat aku untuk
ngapa-ngapain kamu, ya, aku iyain aja deh, Tapi, aku yang milih film dan ga
boleh minta popcorn,” ujar si
laki-laki.
Gadis itu tertawa keras “Kamu
nyenengin ya. Kocak,” ucapnya.
“Gak perlu nyalahin aku, udah
bawaan lahir itu,” kata laki-laki itu, tanpa membalikkan wajahnya ke arah si
gadis. Si gadis tertawa dan menggeleng tidak percaya. “Kamu juga punya bawaan
lahir yang bagus. Kamu cantik.”
Pipi gadis itu sedikit
memerah, gengsi bangga dipuji oleh orang asing. Ia sedikit tersenyum sebelum
akhirnya menggeleng. Ia tidak boleh begitu. Ayo main-main saja dengan orang asing
ini.
“Ak—“
Gadis itu mau bicara ketika
si laki-laki memotong lagi. “Nggak usah ngerasa perjalanan ini meaningful, meaningless juga gak apa-apa, yang penting nih, kamu tuh gak duduk
di pinggir trotoar gajelas kayak tadi. Kita seneng-seneng aja.” katanya.
Gadis itu tahu, dia berusaha
keras tidak tertawa kali ini.
“Ah, lagu Hit the Road Jack,” kata si gadis
memecah kesunyian yang canggung yang sempat tercipta diantara mereka. “Hit the Road Jack, and don’t you come back
no more, no more, no more…”
“Woah women, oh women, don’t treat me so mean, you’re the meanest old
women that I’ve ever seen,” Gadis itu ikut bernyanyi, dan anehnya,
laki-laki itu juga menyanyikan bait yang sama, pada yang waktu yang
berbarengan.
Mereka berdua akhirnya
tertawa.
“Wow, selain The Smiths, kamu
dengerin Ray Charles juga? Sulit dipercaya.” Laki-laki itu tertawa.
Emang aneh?” Gadis itu
tertawa.
“Di zaman yang isinya Lady
Gaga dan Justin Bieber, kamu masih tahu Ray Charles? God!” Laki-laki itu menepuk setirnya. “Sekalian aja kamu juga
seneng masak dan lucu. Aku bisa jatuh cinta sama kamu dalam waktu sedetik deh.
Tipe aku banget.” Laki-laki itu antusias dan akhirnya tertawa.
Gadis itu memutar mata. Ya, aku bisa masak, pikirnya bingung.
“Ray Charles keren. Banyak
lagu-lagu nya yang sebenernya sedih, tapi karena dinyanyiin dengan riang dan
indah, jadi enak aja,” kata si gadis. “Sedih kan bisa diubah jadi hal indah,
kayak The Smiths. Lagunya sedih-sedih, tapi indah.”
“Kayak tadi?” Si gadis
menatap laki-laki itu, mengerutkan dahi tadi-yang-mana nya. “Duduk di tengah
hujan juga kesedihan yang indah, ya?”
Kini gadis itu tidak
menjawab. Laki-laki itu memandangnya sekilas.
“Mau dikasih tahu satu
rahasia? Aku sebenarnya memang lagi kalut dan entah kenapa lihat kamu di
pinggir jalan jadi seneng aja,” ujar si laki-laki.
Si gadis tercenung sebentar,
mencoba mengabaikan sinyal hangat yang dikirimkan si laki-laki. Ia kemudian
mengangkat bahu.
“Ya ampun.” Si gadis tertawa.
“Ayolah, kita ini orang asing, nggak kenal satu sama lain. Jangan kayak
putrid-putri Disney yang jatuh cinta pada pandangan pertama deh,” kata si
gadis.
“Ya Tuhan, dan kamu bahkan
baru menunjukkan kalau kamu itu lucu. Mungkin gak sih kalau kita memang
ditakdirkan untuk ketemu di jalan barusan untuk kemudian hidup berbahagia
selamanya?” Laki-laki itu memandangnya serius.
Gadis itu tidak tahu apa
laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya. Memang, pipinya kembali
memerah, tapi, ya, dia juga ingin bersikap biasa saja. Ia melanjutkan lagi
nyanyiannya, dan mereka bernyanyi lagu There
Is a Light That Will Never Goes Out lagi, juga lagu-lagu lain yang ada di
dalam kaset tape.
Menyanyi bersama orang asing
tidak terlalu buruk ternyata, pikirnya. Sebelum akhirnya monil tiba-tiba
berhenti.
“Let the good times roll, I don’t care
you’re young or old. You oughtta get together and let the goot times roll.”
~Ray Charles- Let the Good Times Roll
“Anjrit mogok!” Laki-laki itu
turun dari mobil di tengah hujan yang mulai reda, menyisakan gerimis, dan
membuka kap mobilnya. Si gadis melongok dari jendelanya. “Tenang, tenang. Emang
suka gini.” Si laki-laki pun tenggelam dalam kap.
Gadis itu menekuk kakinya dan
memeluknya, menunggu. Sepuluh menit kemudian, laki-laki itu masuk ke mobil
dengan cengiran lebar.
“Ehm. Mobilnya harus di
dorong dulu sebelum jalan,” katanya.
Gadis itu melebarkan mata
tidak percaya. “MASA AKU YANG DORONG?”
“Aku juga pengennya kamu
pegang stir sama gas. Aku yang dorong dari belakang. Gimana?” kata si laki-laki
itu. Gadis itu ingin berteriak, tapi akhirnya dia turun juga.
“Aku dorong aja.”
Si laki-laki itu tadinya
tidak yakin si gadis bisa melakukannya. Tapi, ketika dengan asal-asalan dia
menginjak gas, mobil itu benar-benar maju. Gadis itu benar-benar mendorongnya.
“Whoa!” Teriak mereka
bersamaan. Gadis itu kembali ke dalam mobil dan tertawa puas.
“Haaa, lihat! Aku juga bisa!”
kata gadis itu, menepuk keras punggung si laki-laki.
“Canggih mampus. Gilaaa…”
Mereka tertawa keras bersama.
“I’ve been abused in my heart”
~Ray Charles- Sweet Memories
“Aku diberhentiin kerja.”
Tiba-tiba ditengah kemacetan
menuju mall untuk menonton, gadis itu mulai bercerita. Mereka bertatapan lagi.
“Separah itukah?” tanya si
laki-laki.
“Penyebabnya, istri atasanku di
tempat magang ngira kalau aku selingkuhan suaminya.” Si gadis tersenyum getir.
Si laki-laki tak mengatakan
apapun.
Si gadis tertawa dipaksakan,
“ Istrinya yang punya perusahaan, jadi aku diberhentiin,” ceritanya lagi.
“Akhirnya orang-orang sekantor tahu. Mereka menatapku jijik. Mungkin karena aku
junior, aku dikerjain. Haha.”
Laki-laki itu menyandarkan
kepalanya di kaca mobil. Matanya meredup. “Gimana kalau kita ngobrolin apa hobi
kamu? Kamu seneng ngapain, selain duduk di trotoar godain cowok lewat?”
Ia menggeleng-geleng dan
berusaha menjawab pertanyaan itu. “Hmm…aku suka tidur, gambar, nyanyi-nyanyi
kenceng di depan komputer.”
“Hmm…menarik.”
“Kalau kamu?” Ia menoleh pada
laki-laki itu.
Laki-laki berambut agak
gondrong itu menerawang. “Hmm…kalau aku, aku seneng nemenin orang yang aku
sayang. Mau ngapain pun,” jawab laki-laki itu. Nada bicaranya menjadi lembut.
Gadis itu tersenyum. “Kalau Ibu, dia seneng nonton infotainment, jadi aku lumayan sering nonton infotainment nemenin dia. Aneh sih, hahaha, tapi aku sayang banget
sama ibu, jadi aku temenin aja. Adikku suka masak. Aku seneng liat dia masak
atau gangguin dia di dapur kalau lagi masak. Sahabat aku seneng kebut-kebutan,
aku temenin dia kalau dia balap liar malem-mmalem. Lumayanlah bisa nongkrong
juga. Tapi, untuk diri sendiri, aku suka hmm, main gitar dan main bola. Haha,
standar aja.”
Gadis itu merasa hatinya
terasa hangat lagi.
“Kalau aku jadi temen kamu,
terus aku minta kamu duduk di pinggir trotoar pas hujan, mau nggak?” tanya si
gadis iseng, terkikik.
Laki-laki itu menggaruk
kepalanya. “Wah, susah. Hmm…nggak ah,hahaha!” Ia ikut tergelak. “Eh, nyampe.”
Gerbang mall memang sudah terlihat, dan mobil sedan itu pun masuk ke sana.
Sesampainya di parkiran mall,
mereka turun sambil tetap bernyanyi-nyanyi pelan. Celana si gadis masih basah,
tapi tampaknya tak ada satu pun yang memedulikannya.
“Eh, gimana kalau kita
jalannya jauhan? Jadi kayak bener-bener orang yang nggak kenal gitu, dan
ternyata kebetulan nonton film yang sama dan sama-sama sendiri,” kata si gadis.
“Hahaha boleh. Kamu naik lift
ya, aku naik escalator. Terus nanti ceritanya aku papas an sama kamu di tempat
karcis,” tambah si laki-laki.
“Sip!”
Mereka pun berjalan menjauh
dan sama-sama terkikik. Laki-laki itu, dengan kaos puti dan celana jeans
hitamnya ke arah eskalator. Si gadis berjalan menuju arah lift. Smbil menunggu
lift, si gadis mendongak dan menatap sosok si laki-laki lagi. Ganteng. Charming. Pintar. Penyayang. Ia suka.
Padahal mereka orang asing, tapi entahlah. Ia suka. Chemistry mereka sangat terasa, dan ia mulai mempertanyakan, apa
memang dia dan laki-laki itu sudah ditakdirkan bertemu di hari ini, di jalan
itu.
Ia sedikit tercekat ketika
laki-laki itu tampak bertemu seorang laki-laki berkemeja hitam di lantai dua.
Terlihat si laki-laki tak senang bertemu dengan laki-laki berkemeja hitam. Ia
benar-benar penasaran apa yang tengah sibicarakan dua laki-laki itu, tapi lift
terbuka, dan ia pun masuk ke dalamnya.
Gadi itu sampai duluan di
meja karcis. Beberapa belas menit kemudian, laki-laki itu datang dan wajahnya
masih tampak tidak terlalu senang. Gadis itu membuat kontak mata dengan
laki-laki itu untuk bilang, “Ayo kita
pura-pura beli bareng sekarang!”. Dan tampaknya laki-laki itu mengerti.
“Mbak, saya mau beli karcis
buat film… Uh, Man of Steel,” kata si
gadis. “Sendiri.”
Sesuai rencana, si laki-laki
menyela, “Oh, mbak mau nonton Man of
Steel juga? Sendiri? Bareng saya aja. Saya juga mau nonton itu,” kata si
laki-laki dengan kemampuan akting yang diharapkan memenuhi standar Oscar.
Si gadis tidak kalah
berakting kaget, dan akhirnya dengan sok bingung bilang, “Oh ya sudah Mbak, berarti
saya beli dua karcis untuk Man of Steel,”
katanya. Mbak itu menatapi mereka berdua, memberikan karcis, dan menatap
bingung kedua orang yang melangkah pergi dari tempat membeli karcis itu.
15 meter dari meja karcis,
tawa mereka meledak.
“LO HARUS LIAT MUKA SI
MBAKNYA BARUSAAAN…”
Dua jam menonton (dan si
gadis terkejut ternyata si laki-laki malah tidur di sebelahnya), dan akhirnya
lampu dihidupkan dan layar ditutup, mereka pulang.
Pukul 10 malam mereka
meluncur dari parkiran mall. Masing-masing terdiam. Si gadis berusaha mencairkan
suasana, tapi si laki-laki tak banyak merespon.
Dua puluh menit kemudian,
ternyata si laki-laki menurunkannya di jalan itu lagi. Ya, si gadis menyadari,
perjalanan yang dimulai di jalan itu, berakhir di jalan itu juga. Perjalanannya
dengan si orang asing ini berakhir. Ia tersenyum kecil mengenangnya.
Mobil berhenti dan si gadis
belum menggerakkan sama sekali kakinya untuk turun.
“Kenapa?” tanya laki-laki itu
akhirnya.
Gadis itu mendongak dan
tertawa tertahan. Apa laki-laki itu tidak mengerti? Dia menunggu. Menunggu
laki-laki itu meminta nomor teleponnya atau sekedar akun twitternya.
Tapi laki-laki itu hanya
memandanginya bingung.
Benar-benar tidak sensitif.
Gadis berambut sebahu itu mnarik napas. “Hmm… Makasih ya hari ini. Aku merasa
enakan,” katanya. Laki-laki itu mengangguk. “Kita…bisa ketemu lagi
kapan-kapan?” tanyanya. Bukan pertanyaan tidak beralasan ‘kan? Laki-laki it
uterus menggodanya sepanjang perjalanan.
Si laki-laki menarik napas.
Menunduk Si gadis mulai merasa tidak enak.
“Kayaknya nggak bisa,” kata
laki-laki.
Gadis itu terhenyak.
“Kenapa?”
“Ya, kayaknya kita gini aja.
Saling nggak kenal nama, tempat tinggal, tempat kuliah, apa pun. Tetep jadi
orang asing yang gak bisa sapaan di jalan.”
Gadis itu mengernyit. Hatinya
merasa teriris. Perih. Jelasin kenapa lah.”
Laki-laki itu memalingkan
wajah, menghindari tatapan si gadis. “Aku…sebenarnya bohong sama kamu. Aku udah
punya pacar,” bisiknya.
“Hah?”
Laki-laki itu menggeleng
frustasi. “Aku bingung harus gimana. Pacarku ternyata selingkuh sama temenku
baik aku sendiri. Hahaha. Dan ya, aku ketemu kamu, dan kamu asik.”
Si gadis tersenyum lemah.
“Yah…ternyata aku gak bisa
lari dari cewekku. Aku tetep mikirin dia. Aku tadi ketemu cewekku itu, dia
minta maaf, dan…” Laki-laki itu menutup matanya. “Aku lihat, kamu kayaknya
tertarik sama aku. Aku nggak mau nyakitin kamu karena itu. Jadi, mengingat kita
belum tahu nama masing-masing, dan di mana kita tinggal, dan lain-lain… Mari
kita tetep jadi orang asing aja. Saling menjalani hidup masing-masing.
Gadis itu tertahan di antara
ingin menangis dan tertawa. Ia ingin berteriak dan memaki laki-alki itu. Terus kenapa kamu harus ngegoda aku
seharian? Sialan.Tangannya gemetar ingin menampar pipi laki-laki itu.
Tapi akhirnya dengan sekuat
tenaga ia berucap, “Oke. Oke kalau gitu.,” ujarnya. Lalu ia turun dari mobil,
membanting pintu, dan berjalan cepat, ketika laki-laki itu berbicara lagi.
“Aku cocok sama kamu. Jelas
banget kita saling suka. Di waktu lain, di keadaan lain, aku mungkin bisa
bener-bener jatuh cinta sampai gila sama kamu. Tapi cewek aku juga nggak aksn
suka itu. Yang penting…kita seneng-seneng hari ini, dan semoga jadi memori yang
lumayan bisa diingat ya,” katanya setengah berteriak.
***
Beberapa hari setelah itu,
hujan turun lagi. Gadis itu duduk lagi di tempat yang sama. Menunggu mobil
sedan dengan lagu The Smiths dan Ray Charles menggema di mobilnya. Dia berdoa,
meyakini yang dia cintai akan kembali. Bahwa kemarin itu bukan ilusi.
Mobil itu tak pernah lewat.
Tapi si gadis tetap duduk di
sana setiap hari Sabtu.
Duduk. Sendiri, atau berdua,
atau bersama siapapun yang ingin menemaninya.
***
Dan, pada suatu hari, di
sebuah jalan.
Ia berjalan sendiri,
menyenandungkan lagu “I can’t stop loving
you” nya Ray Charles, di tengah sore yang menyengat, ketika sebuah mobil
berhenti tepat disampingnya. Kaca mobil itu perlahan terbuka.
Orang di dalam tersenyum.
Gadis itu tersenyum.
Ia masuk.
***
0 komentar